Jumat, 19 Oktober 2012

Yayasan SUPERSEMAR

Bertolak dari pemikiran bahwa masalah pendidikan adalah masalah yang harus ditanggulangi bersama antara orang-tua, masyarakat, dan Pemerintah. Bahwa banyak anak muda Indonesia yang memiliki kemampuan intelektual, namun keadaan orang tuanya kurang mendukung kelangsungan pendidikan formal yang tengah ditekuninya.
Bahwa apabila mereka itu mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak-anak dari keluarga yang berkecukupan niscaya akan mampu berkembang dan pada gilirannya akan menjadi salah satu modal bagi pembangunan bangsa, karena merupakan sumber daya manusia yang terdidik. Jadi, apabila ada uluran tangan dari orang atau lembaga penyandang dana tentulah sangat berarti, setidak-tidaknya sangat membantu bagi upaya mengatasi keadaan tersebut.
Bapak Soeharto, saat itu, berhasrat membantu Pemerintah di dalam upaya mengatasi problema yang tengah dihadapi dunia pendidikan tersebut. Pengalaman beliau memimpin Yayasan Trikora, yang memberikan beasiswa bagi putra-putra pejuang “Trikora” dan “Dwikora” cukup menjadi bekal untuk mendirikan sebuah yayasan beasiswa yang bersifat lebih umum dan lebih luas jangkauan santunannya.
Maka, pada tanggal 16 Mei 1974, bertambah lagi sebuah yayasan beasiswa di Indonesia yang dipimpin oleh Bapak Soeharto, yang siap berkiprah bersama- sama dengan lembaga/ yayasan lain yang sudah ada membantu Pemerintah. Yayasan ini dinamakan Yayasan Supersemar.

Yasasan Pendidikan Kebangsaan
Yasasan Pendidikan KebangsaanYasasan Pendidikan Kebangsaan merupakan yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Didirikan oleh Prof. DR. Soemitro Djojohadikusumo dalam rangka turut serta berperan aktif dalam menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang bermutu tinggi sehingga dapat bersaing dalam era globalisasi ini.

Yayasan 25 Januari
Setiap tanggal 25 Januari, selalu dilaksanakan upacara Peringatan Peristiwa Pertempuran Lengkong yang diadakan di Taman Makam Pahlawan Taruna Tangerang (TMPTT) dan Monumen Daan Mogot di BSD City. Peristiwa Pertempuran Lengkong yang terjadi di desa Lengkong Wetan, Serpong, pada 25 Januari 1946 ini, telah merenggut 34 nyawa putra terbaik bangsa, yang rela melawan penjajah Jepang dengan mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan tanah air tercinta.

Rani D. Sutrisno, Ketua Harian Yayasan 25 Januari 1946 dalam sambutannya mengatakan bahwa, BSD yang kini berkembang menjadi BSD City telah banyak membantu terlaksananya acara Peringatan Peristiwa Pertempuran Lengkong. “Semoga kegiatan ini tetap berlangsung,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan pula oleh Prabowo Subianto, Ketua Yayasan 25 Januari 1946. “Peristiwa Lengkong adalah bagian dari sejarah. Pada peristiwa tersebut, remaja-remaja Indonesia rela memberikan jiwa dan raganya untuk ibu pertiwi demi kemerdekaan Indonesia. Terimakasih kepada PT BSD yang terus mendukung terlaksananya acara ini,” ucapnya.

H. Djoko Munandar, Gubernur Banten memaparkan bahwa, acara peringatan ini dapat melestarikan pesan nilai perjuangan, dan memberikan wawasan kebangsaan, serta menjadi landasan yang kuat pada sistem pertahanan dan keamanan negara. Sementara itu, Mayor Jendral M. Yunus Palar, Gubernur Akademi Militer (Akmil) menambahkan bahwa, tanggal 25 Januari telah ditetapkan oleh KSAD sebagai Hari Bakti Taruna. Di masa yang akan datang, acara ini rencananya juga akan dilaksanakan di Akmil, Magelang.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Ringin Contong | Berbagi Kasih Untuk Sesamanya